Jumat, 19 Maret 2010

Melukis Harapan Pendidikan Indonesia Esok

1 komentar
Indonesia tanah airku,


Sejak kecil seluruh anak bangsa ini didalam ruang kelas selalu saja diinformasikan mengenai tanah airnya, Indonesia. Segala keanekaragaman kekayaan, mulai dari lautan hingga hutan yang begitu nan indah dimiliki negara berpenduduk lebih dari 320 juta jiwa ini. Bahkan segala jenis ikan seluruh dunia, terdapat di sebuah pulau bernama bunaken, Manado. Negara ini mempunyai minyak di telaga tiga, batu bara di timur sumatera dan sebahagian besar Kalimantan ; 1,32% dari cadangan batu bara dunia. Dengan cadangan sebesar itu, Indonesia menempati urutan ke-13 di dunia. Belum lagi produksi yang dapat di perbaharui, seperti hutan. Ribuan hektar hutan Kalimantan harusnya memberikan kesejahteraan buat rakyatnya. Lain lagi ketika berbicara mengenai adat istiadat yang beranekaragam, propinsi di negara ini mempunyai karakteristrik yang berbeda, ini merupakan sebuah keunggulan.

Berdasarkan sejarah duniapun, Indonesia punya sriwijaya dan majapahit yang merupakan dua kerajaan yang meliputi Malaysia dan sebagian Singapura. Bahkan sebagian Negara Eropapun, seperti Belanda dan Portugis begitu ingin datang ke Indonesia, untuk mendapatkan rempah-rempah. Pelayaran sunda kelapa dari para pedagang Gujarat, sudah mampu menjadikan pelayaran terpadat didunia pada zamannya. Sungguhpun negara ini sebenarnya punya kekuatan secara historis maupun geografis, Indonesia tanah airku.

Pendidikan Indonesia Masa Depan
Lalu mengapa dengan segala kelebihan alam yang sebegitu besar, sebegitu besar pula rakyat ini belum merasakan kebesaran negaranya? Negara ini belum mampu keluar dari krisis ekonomi sejak 1998, terlalu lambat dibandingkan Singapura maupun Malaysia yang memang satu rumpun, melayu, tanya kenapa?,mengutip iklan. Kuncinya adalah tidak adanya penyadaran dan kurangnya kepedulian secara merata tentang pentingnya pendidikan bagi semua. Penyadaran pendidikan hanya berkutat bagaimana mendapatkan pekerjaan yang mapan setelahnya, semakin besar kegelaran, maka semakin pula menduduki posisi puncak. Lalu di mana sebuah nilai ilmu pengetahuan? Ekperimen, penemuan, observasi, penelitian dan sejenisnya, harusnya menjadi sesuatu yang harusnya dihargai oleh pemerhati pendidikan. Kelas, buku, sekolah masih menjadi sesuatu yang menakutkan bagi anak bangsa. Pasti ada yang salah disini, peranan semua pihak dan juga pemerintah sebagai pemilik kebijakan, harus ekstra keras mengkaji dan bertindak demi kemajuan pendidikan tentunya.

Lihatlah, apa yang diungkapkan perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi, dalam penyampaian anggaran belanja negaranya, menyinggung langsung masalah sektor informasi dan komunikasi serta multimedia untuk menunjang pendidikan dan menjadi unggulan di masa datang. Pembentukan karakter sumber daya manusia begitu diunggulkan di negara tersebut dan didukung sepenuhnya oleh pemerintahnya, dengan begitu kemajuan pendidikannya akan mengikuti. Di sisi lain, hukum begitu diterapkan oleh siapapun yang bertindak kriminal. Indonesia untuk pendidikan, sebenarnya sudah menganggarkan 20% APBN untuk pendidikan, tapi rasanya belum mampu menyelesaikan permasalahan pendidikan yang secara nasional. Tapipun sudah ada beberapa tempat yang sudah mampu menggratiskan peserta didiknya, semisal Jembrana, Bali.

Untuk menyelesaikan persoalan pendidikan, perlu juga kita mengetahui konsep pendidikan itu sendiri, yaitu konsep dengan arti yang luas. Ia merupakan keseluruhan proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan berbagai bentuk perilaku lain yang mempunyai nilai positif terhadap lingkungan tempat hidupnya. Apabila proses itu sengaja dikelola agar dapat terbentuk perilaku tertentu dalam kondisi tertentu maka proses itu disebut pembelajaran/instruksional. ( Association for Educational Communication and Technology/AECT, 1986). Tiga point penting yang bisa diambil dari konsep tersebut untuk melukis harapan pendidikan masa depan, yaitu pengembangan diri, peranan sumber belajar dan juga maksimalisasi media.

Berikut merupakan sedikit analisa yang coba dikembangkan penulis dalam mengelola rangkaian harapan tersebut:

Pertama, terkait dengan pengembangan diri peserta didik secara utuh. Peserta didik adalah manusia yang harusnya menjadi manusia bukannya alat, subyek pendidikan bukan lagi objek. Nilai yang melekat berupa kognitif, afektif, dan psikomotorik sudah semestinya terkembangkan pada manusia, yang juga makhluk terberdaya. Manusia sebagai peserta didik merupakan makhluk yang unik, maka pendekatannyapun akan berbeda dengan makhluk lainnya. Pola pembelajaran sudah harus diarahkan pada sesuatu yang menyenangkan, bahkan sebaiknya pada tataran tingkat eksperimen. Peserta didik idealnya menjadi manusia yang bebas dari rasa kekhawatiran kesalahan bertindak, berucap, dan juga berani melakukan sesuatu yang memang bermanfaat bagi dirinya maupun lingkungannya. Oleh karena itu desain instruksional yang dibuat diarahkan pada pendekatan yang berpola isomeritik ( penggabungan segala kajian ilmu), sistemis, sistematis, berdaya lipat. Program akselerasi pembelajaran perlu sekali dikembangkan secara serius pada masa-masa mendatang, tentunya untuk mendapatkan SDM unggul secara cepat. Pengembangan diri juga bisa diberikan dengan penanaman nilai-nilai positif pendidikan, pentingnya belajar sepanjang masa, belajar dimanapun dan kapanpun tanpa harus terikat dengan lingkungan kelas semata. Seperti layaknya perkataan Confucius, pendidik terbesar di Tiongkok, dua ribu lima ratus yang lalu berkata, ?Di usia 15 tahun pikiran saya sudah condong kepada pembelajaran. Ketika usia saya 30 tahun, saya capai hasil-hasil yang tak seberapa. Baru di usia 40 tahun lah keraguan saya hilang. Di usia 50 saya dapatkan pemahaman tentang operasi dan transformasi waktu dan ruang. Di usia 60 pengetahuan bisa ke luar masuk kepala saya tanpa hambatan. Di usia 70 akhirnya saya capai suatu kondisi di mana pikiran dan tubuh saya benar-benar sejalan, ketika apa yang saya lakukan secara spontan tidak melanggar aturan, dan saya tidak berbuat salah?.

Tak pelak lagi, sesungguhnya yang diharapkan adalah perubahan dalam kualitas pendidikan, dimulai dari pengembangan diri, sehingga terjadi perubahan paradigma pendidikan. Pertama, tidak lagi berorientasi pada pengetahuan melainkan pengembangan ke segala arah yang seimbang. Kedua, dari pembelajaran bersama, yang disentralisasikan menjadi pembelajaran yang diindividuasikan, yang didesentralisasikan. Ketiga, dari pembelajaran yang terbatas pada tahap pendidikan menjadi pembelajaran seumur hidup.

Rangkaian kedua adalah berperannya sumber belajar. Meretas harapan terhadap pendidikan di Indonesia memerlukan energi yang maksimal. Hal ini didasari dari kondisi Indonesia yang masih masuk kategori negara berkembang. Menuju ke arah kemajuan sebuah negara, mau tidak mau melihat pada kemajuan pendidikannya. Satu bagian yang tidak lepas dari proses pembelajaran adalah sumber belajar. Pada pendidikan tradisional, guru merupakan segala sumber ilmu pengetahuan, sungguh lain dengan pendidikan masa depan. Guru hanya sekedar penyambung ilmu pengetahuan, bukan lagi segalanya sumber. Segala sarana, informasi, media, atau apapun yang berguna, sedianya mampu dijadikan sumber untuk pembelajaran. Peranan teknologi informasi, harus bisa dimanfaatkan pada masa mendatang.

Proses pembelajaran dengan usia yang disesuaikan, semestinya memanfaatkan “e-net” atau “e-learning” dalam belajar. Pertemuan antara guru dan siswa tidak lagi sesering saat ini, siswa harus memanfaatkan waktunya buat aktivitas positif yang lain. Di satu sisipun, harusnya pemerintah mempermudah para pelajar dalam memanfaatkan internet. Pada masa ini program CAI (Computer Asisten Instruction) sudah semakin lazim digunakan diberbagai tempat pembelajaran. Semakin dikenalkan pada dunia komputer, maka pemahaman peserta didik akan semakin meningkat. PSB sebagai sarana dunia sekolah, pada masa ini sangat berfungsi sebagaimana peranannya. Siswa sangat mengoptimalkan kemampuannya di tempat sumber belajar ini. Semoga saja ini tercapai secara merata di Indonesiaku.

Ketiga, termaksimalisasikannya media pembelajaran. Istilah media yang merupakan bentuk jamak dari medium secara harfiah berarti perantara atau pengantar. AECT mengartikan media sebagai bentuk dan saluran untuk proses transmisi informasi. Sedangkan Olson (1974) mendefinisikan medium sebagai teknologi untuk menyajikan, merekam, membagi, dan mendefinisikan simbol dengan melalui rangsangan indra tertentu, disertai penstrukturan informasi. Media yang dimaksud harusnya memberikan rangsangan terhadap otak, mengatasi keterbatasan pengalaman, melampaui batas ruang kelas, memungkinkan interaksi langsung antara peserta didik dan lingkungannya, membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan merangsang untuk belajar. Menurut Haney dan Ullmer ada tiga kategori utama berbagai bentuk media pembelajaran. Pertama, media penyaji yaitu mampu menyajikan informasi, diantaranya grafis, bahan cetak, gambar diam, audio, televisi, multimedia. Kedua, media objek yaitu yang mengandung informasi, diantaranya replica, model, maupun benda tiruan. Ketiga, media yang memungkinkan untuk interaktif, disebut juga media interaktif. Dalam hal ini setidaknya ada tiga macam interaksi yang dapat diidentifikasikan, yaitu : berinteraksi dengan program, berinteraksi dengan mesin, dan berinteraksi antarsiswa secara teratur tetapi tidak terprogram.

Berabad-abad yang lalu, filsuf Yunani, Aristoteles, berkomentar, ?akar pendidikan itu pahit, tetapi buahnya manis?. Namun sekarang dan yang akan datang, komentar tersebut harusnya berubah sebagaimana yang dikatakan usahawan teknologi yang disegani di Timur maupun Barat, Tuan Sayling Wen, ?akar pendidikan tidak perlu pahit lagi, tetapi buahnya manis?. Untuk itu sesungguhnya masa depan pendidikan bangsaku, harusnya memanfaatkan sekali peranan media untuk pendidikan yang lebih maju. Kita bersama mendambakan hasil pendidikan yang berhasil guna, sehingga sumber daya manusia yang begitu melimpah akan mengelola kekayaan alam yang melimpah pula. Pendidikan diutamakan, hukum ditegakkan, kesejahteraan kan di dapatkan. Harapku padamu, Indonesiaku.

Penyalahgunaan Internet

4 komentar
PADANG--MI: Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. DR. Nurtain mengatakan kini banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi internet untuk hal-hal positif namun lebih cenderung hanya untuk menghabiskan waktu dan hal yang tidak bermanfaat."

Prof. DR. Nurtain - Salut
Semoga kita dapat mulai menggunakan anggaran pendidikan kita untuk hal yang penting, seperti melatih guru-guru di lapangan mengenai caranya menggunakan "Teknologi Yang Tepat Guna"

Semoga Sukses!
Kelihatannya kita sudah mulai sadar!
Internet Masuk Sekolah - Mengapa?
"Teknologi Pendidikan Tepat Guna :: Jaman Kini!"

Dengan rasio: "Sekarang Satu Komputer Untuk 2.000 Siswa" dan "dari jumlah total yang mencapai 200.000 sekolah, sekitar 182.500 sekolah tingkat SD, SMP, dan SMA se-Indonesia belum terakses internet", pembelajaran oleh komputer & e-Learning jelas bukan solusi untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah jaman kini, kan?

Yang penting dulu pemerintah fokus kepada target rasio komputer / siswa menjadi 1:20 pada tahun 2015 itu supaya kita dapat melaksanakan program pembelajaran "mengenai TIK" di semua sekolah yang sangat-sangat penting. Yang penting untuk semua pendidik sekarang: "Teknologi Pendidikan Tepat Guna :: Jaman Kini!"

"Pelajar Kayuagung Kecanduan Game Online"

"KAYUAGUNG, KOMPAS.com — Para siswa SD hingga SMA sederajat di Kayuagung, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, ditengarai sudah kecanduan permainan di internet (game online) sehingga cenderung malas belajar."

"Redi (11), pelajar di salah satu SD negeri di Kayuagung, mengaku sengaja menyisihkan uang jajannya sebesar Rp 3.000 per hari untuk bermain game online di warnet selama satu jam penuh karena sehari saja tidak ke warnet ia mengaku pusing."

"Di sejumlah warung internet di Kayuagung diketahui, puluhan kelompok pelajar hampir setiap hari memenuhi warnet untuk bermain game online, bahkan ada siswa yang membolos sekolah demi menyalurkan hobi di dunia maya tersebut."

"Sejak empat bulan terakhir saya tidak pernah lagi jajan di sekolah karena uang yang diberikan orangtua disimpan untuk membayar sewa warnet selama satu jam supaya bisa main game online, kata Redi."

"Firman (42), salah seorang pemilik warnet di Kayuagung, membenarkan perihal banyaknya pelajar di daerah itu yang saat ini sedang kecanduan game online, Facebook, dan Friendster di dunia maya."

"Facebook Sebabkan Mahasiswa Malas dan Bodoh"

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengguna Facebook yang masih sekolah berhati-hatilah! Menurut studi yang dilakukan oleh Ohio State University, semakin sering Anda menggunakan Facebook, semakin sedikit waktu Anda belajar dan semakin buruklah nilai-nilai mata pelajaran Anda.

"Hati-hati, 600 Juta Situs Seks Intai Pelajar!"

SURABAYA, KOMPAS.com — Sedikitnya 600 juta situs seks dan pornografi saat ini mengintai pelajar pengguna internet. Karena itu, harus ada kontrol penggunaan internet.

"Konsumsi Anak terhadap Siaran Televisi, Internet, dan Telepon Seluler harus dikurangi"

"Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Seto Mulyadi minta para orang tua untuk mengurangi kebiasaan anak menonton televisi, mengakses internet dan menggunakan telepon seluler." (Saturday, February 21, 2009)

Kami di E-Pendidikan.Com terus ditanya "Apakah ada informasi baru di bidang teknologi & pendidikan?" Ya:

Teknologi Sekarang Membuat Beberapa Ancaman Baru Terhadap "Anak-Anak Bangsa Yang Cerdas".
  • Banyak sekali siswa-siswi sudah biasa membuang terlalu banyak waktu main games, misalnya Play Station dan Games Online. Waktu ini sebaiknya digunakan untuk menambah kemampuan mengulang pelajaran dari sekolah. Sebagai siswa-siswi atau orang tua yang bertanggungjawab kita perlu sangat membatasi atau memonitor waktu anak-anak kita main games atau akses Internet.

    Ingat bahwa main games hanya dapat menyiapkan anak-anak kita untuk jurusan pengangguran!

  • Terlalu banyak siswa-siswi juga sudah mulai menghabiskan banyak waktu di Internet di situs-situs hiburan (atau cari jodoh) seperti Facebook, Yahoo Messenger dan Friendster di mana mereka hanya menghabiskan waktu, yang sangat tidak produktif, dan perlu dibatasi. Kalau kita rajin keliling warnet setelah jam sekolah kita dapat melihat bahwa kebanyakan siswa-siswi sedang sibuk dengan chatting dan e-mail (pergaulan).

    Ini juga baik untuk mereka yang hanya berharap ikut pengangguran!

  • Lebih dari 90% bahan dan informasi yang bermutu, yang dapat meluaskan dan membuka pikiran dan kreativitas anak kita di Internet dalam bahasa Inggris (the international language). Internet sebagai sumber informasi saja sangat terbatas untuk anak-anak kita karena bahan dan informasi bermutu dalam bahasa Indonesia adalah sangat sedikit. Sebetulnya ada banyak isu yang jauh lebih penting. Misalnya!

    Lebih baik mereka menggunakan waktunya untuk belajar bahasa Inggris supaya mereka dapat berpartisipasi di dunia global, kan? Maupun membuka pintu kerja di seluruh dunia.

    Informasi dan bahan pembelajaran yang paling tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi mereka akan menerima di sekolah oleh guru. Kadang-kadang gurunya akan menambah kegiatan seperti penelitian di mana siswa-siswi diberi tugas mencari informasi dari Internet. Ini kegiatan yang baik dan adalah fokus. Kegiatan begini sebaiknya dilaksanakan di luar jam sekolah supaya tidak makan waktu di sekolah yang masih sangat kurang.

Do we need education technology to achieve quality teaching/learning?

Teknologi pendidikan yang sampai sekarang ini masih sangat dapat membantu guru dan siswa-siswi di lapangan adalah apa?

  • Biasanya teknologi yang paling efektif adalah yang paling sederhana, yang mengajak siswa-siswi aktif dalam proses pembelajaran. Misalnya

  • Semua siswa-siswi perlu belajar keterampilan komputer dan TIK karena keterampilan komputer dan TIK sering sekali adalah kebutuhan utama di lapangan kerja. Tetapi teknologi cangih sebagai media untuk menyampaikan pendidikan kita tidak perlu!

"I can answer "No" without any hesitation to your basic question 'do we need education technology to achieve quality teaching/learning?'" (Totok Amin Soefijanto)
Mr. Totok Amin Soefijanto is Deputy Rector (Vice-Chancellor) for Academics and Research at Paramadina University, Jakarta.
He earned his Ed.D in educational media and technology at Boston University.

Apakah benar teknologi adalah solusi untuk
pendidikan yang bermutu di Indonesia?

Jangan menunggu sampai kita akan menghadapi Ujian Negara (UN) lagi. Yang paling penting sekarang adalah pembelajaran dari sekolah mereka. Mohon jangan sampai main game komputer, chatting, Friendster, Facebook, dll dapat memakan waktu mereka sampai anak-anak kita dirugikan oleh teknologi!

http://e-pendidikan.com/

Internet Belum Dimanfaatkan Secara Positif Oleh Pelajar

1 komentar
Internet Belum Dimanfaatkan Secara Positif Oleh Pelajar

Minggu, 14 Februari 2010 10:21 WIB

PADANG--MI: Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. DR. Nurtain mengatakan kini banyak pelajar dan mahasiswa yang tidak memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi internet untuk hal-hal positif namun lebih cenderung hanya untuk menghabiskan waktu dan hal yang tidak bermanfaat.

Meski kini teknologi itu mudah diperoleh, namun hanya sedikit yang memanfaatkannya bagi kemajuan ilmu pengetahuan, kata Guru Besar UNP itu di Padang, kemarin.

Menurut dia, kini akses internet itu sangat mudah diperoleh, seperti di kampus-kampus serta sejumlah lokasi umum lainnya.

UNP saja sudah menyediakan akses wireless, dengan bermodal satu laptop saja kita sudah bisa berinternet di mana-mana, namun sejauh ini tidak banyak mahasiswa yang memanfaatkannya untuk hal positif, katanya.

Nurtain mengatakan, dari pantauannya mahasiswa kebanyakan hanya mengakses situs jejaring sosial seperti facebook, bukan situs-situs pendidikan.

Dimana-mana mahasiswa itu saya lihat hanya membuka facebook, dan men-download film serta lagu padahal mereka bisa melakukan hal yang berguna lain, katanya.

Menurut dia, sangat banyak informasi yang bisa didapat dengan mengakses internet di antaranya sejumlah situs-situs pendidikan baik dalam maupun luar negeri.

Keuntungan yang bisa diperoleh, kata Nurtain, di antaranya bisa mendapatkan informasi beasiswa, penelitian serta sejumlah bahan untuk mendukung perkuliahan.

Sehubungan dengan itu, Prof. Nurtain menyarankan agar para mahasiswa lebih kreatif dan bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi itu untuk hal-hal yang positif dan membawa kemajuan bagi dirinya sendiri dan masa depan.

Jangan sampai teknologi itu hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak berguna, katanya. (Ant/OL-07)

Sumber: Media Indonesia Online
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/14/123105
/88/14/Internet-Belum-Dimanfaatkan-Secara-Positif-Oleh-Pelajar

Kamis, 18 Maret 2010

Renungan Budaya Untuk Anak Muda

1 komentar

KEBUDAYAAN sebuah bangsa tidak pernah statis. Ia senantiasa dinamis dan beradaptasi secara dialektis dan kreatif dengan dinamika masyarakat. Adakalanya ia memengaruhi, juga sebaliknya, dipengaruhi masyarakatnya. Kebudayaan mengalir dalam gerak saling-pengaruh yang tanpa akhir dalam denyut nadi kehidupan. Terkadang arusnya kecil, terkadang besar, bahkan ia bisa menjadi gelombang besar yang memengaruhi kesadaran dan laku kita. Kalau kini orang berbicara tentang krisis masyarakat yang mendalam, bukankah ia juga berbicara tentang krisis budaya, krisis nilai, krisis kehidupan itu sendiri....

Lantas, 60 tahun setelah kita merdeka adakah capai-capaian budaya membanggakan yang kita raih? Ataukah malah krisis budaya benar-benar telah mengempaskan kita ke keterpurukan ekonomi dan ke ketertinggalan kematangan sosial politik yang amat memilukan?

Selama ini budaya atau kebudayaan terlalu sering dibicarakan dalam tema-tema besar yang serbaabstrak. Seperti dalam pidato-pidato kebudayaan yang menuntut refleksi yang dalam dan kecerdasan nalar-logika yang rumit. Tentu saja ruang-ruang perenungan budaya seperti ini penting.

Tapi, sesungguhnya untuk saat ini yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita memandang budaya dengan sederhana. Budaya kita lihat saja dalam kecenderungan sikap, laku, tindak, dan tutur kata kita sehari-hari yang amat kasat mata. Katakanlah, mengikuti istilah pemikir budaya mutakhir, sebagai budaya kehidupan sehari-hari (culture of everyday life).

Pemikiran kritis

Hingga kini begitu banyak pemikiran kritis yang lahir dari perenungan yang dalam dan tulus untuk berbicara tentang budaya dan masyarakat Indonesia. Pandangan itu sering sangat kritis terhadap budaya dominan, sehingga tak jarang cukup mencerahkan. Sayang, setelah pemikiran itu dilontarkan, lantas disambut dan diperdebatkan dengan hangat, kemudian dilupakan begitu saja, seakan lenyap ditelan arus sejarah.

Sebutlah beberapa saja. Tahun 70-an Mochtar Lubis misalnya sudah berbicara sangat keras tentang wajah tak keruan manusia Indonesia. Dengan wajah muram manusia Indonesia yang ciri-ciri pribadinya berkeping-keping (munafik, feodal, percaya tahayul, punya watak yang lemah, dan cenderung boros), Mochtar Lubis khawatir bangsa kita akan tertinggal jauh, dan lebih celaka lagi akan jadi korban dalam percaturan dunia.

Tak heran kalau Koentjaraningrat mengingatkan tentang perlunya perubahan mentalitas masyarakat Indonesia agar bisa menjadi bangsa yang maju. Dan, Umar Kayam tak bosan berbicara tentang pentingnya transformasi budaya kita untuk menyingkirkan budaya feodal dan birokratis dalam laku elite politik (pegawai negeri dan politisi) dan masyarakat umum.

Sementara itu, Taufik Abdullah memperkenalkan sebuah rumusan yang bagus menyangkut kemiskinan budaya wacana elite politik, yang disebutnya "spiral kebodohan yang menukik ke bawah". Kebodohan yang dibalas dengan kebodohan akan melahirkan kebodohan baru. Bukankah pernyataan bodoh seorang elite politik yang ditanggapi dengan pernyataan bodoh pula oleh elite politik yang lain, begitu sering kita saksikan di media. Pernyataan itu hanya melahirkan kebodohan baru. Akhirnya menciptakan semacam spiral kebodohan yang terus menukik ke bawah.

Lebih dalam lagi Soedjatmoko mengingatkan tentang ancaman kemanusiaan, berupa kemiskinan, ledakan penduduk, degradasi lingkungan global yang dampaknya akan dirasakan bangsa Indonesia di abad ke-21. Ia juga menyebut munculnya fenomena "masyarakat stres", "masyarakat sakit", yang ditandai oleh sakit mental, kekerasan, dan penyalahgunaan obat dan kenakalan remaja. Maka tak heran kalau Soetardji Calzoum Bachri mengajak bangsa kita dengan lantang: "Wahai bangsaku/ Keluarlah engkau dari kamus kehancuran ini/ Cari kata/ Temukan ucapan/ Sebagaimana dulu para pemuda menemukan kata dalam sumpah mereka." Senada dengan Sartono Kartodirdjo yang mengumandangkan tentang pentingnya kesadaran sejarah dalam proses pendidikan bangsa. Dan, Kuntowijoyo mengajukan pentingnya transendensi dan humanisasi untuk melawan politisisasi, sekularisasi, dan komersialisasi budaya.

Persoalan krusial dan skenario ke depan

Apa yang menjadi imbauan atau bahkan kekhawatiran para pemikir budaya tersebut tak lain adalah implikasi dari adanya arus besar yang memengaruhi kehidupan dan membentuk budaya masyarakat mutakhir. Di satu sisi, ia bersumber dari dalam, berupa feodalisme dan di sisi lain, ia datang dari luar, dari konsekuensi-konsekuensi globalisasi dan transnasionalisasi nilai-nilai yang datang dari seluruh sudut dunia via media massa. Atau, baik itu dari gejala sekularisme yang merembesi segenap ranah-ranah religiusitas manusia modern, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi nilai-nilai-agama tradisional maupun dari nilai kapitalisme masyarakat konsumen yang menyebabkan berlangsungnya proses komodifikasi semua ranah kehidupan.

Nilai-nilai ini dipandang ikut membentuk selera, laku, dan bahkan kesadaran kita. Kini nilai-nilai ini terus meresap, menjadi semacam kekuatan budaya yang membentuk bawah-sadar kehidupan manusia modern. Mulai dari cara kita memilih letak rumah, jenis kendaraan, merek busana, tempat hiburan, acara TV, figur anutan, penggunaan uang yang kita peroleh, pemanfaatan waktu luang, hingga cara kita bercinta dan menjalani serta memandang kehidupan sehari-hari. Semuanya tak lain dari adanya konstruksi nilai dan budaya yang membentuk kesadaran kita.

Di tengah kepungan nilai-nilai itu, bangsa kita justru berhadapan dengan masalah besar dan krusial yang menghadang. Persoalan kemiskinan, penyakit (biologis, psikologis, dan sosial), kebodohan, kekerasan, ketidakpedulian (I don't care!), pencemaran lingkungan, masih menjadi persoalan keseharian yang kasat mata yang masih memerlukan tidak hanya pemikiran budaya, tapi juga laku budaya sehar-hari yang lebih mampu membebaskan dan memberdayakan kita dari berbagai krisis sosial, ekonomi, politik yang mengimpit. Laku dan kesadaran budaya yang beberapa di antaranya akan disorot di bawah ini perlu segera dikembangkan untuk melawan kecenderungan laku budaya dominan yang seakan sudah menjadi bagian hidup sehari-hari.

Kita sebut saja budaya itu sebagai "10 Sikap dan Kesadaran Budaya Negatif" yang harus disingkirkan dengan membangun "10 Sikap dan Kesadaran Budaya Positif" yang menjadi budaya alternatif yang harus terus dipupuk di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di tempat ibadah, di jalan-jalan, dan di semua ruang kehidupan sehari-hari.

Pertama, budaya feodal lawan budaya egaliter.

Budaya feodalisme yang menghambat kemajuan harus dilawan dengan sikap dan kesadaran budaya egaliter. Sikap egaliter menempatkan manusia pada posisi setara, tanpa memandang status yang diperoleh karena keturunan, kekayaan, jabatan, pendidikan, suku, ras, atau agama. Sikap hidup yang memandang semua orang sama akan menjadi budaya pendukung nilai-nilai demokrasi dan semangat masyarakat madani. Kita harus mengembangkan pendidikan budaya sejak dini kepada anak-anak agar tumbuh sikap budaya egaliter yang menghargai sesama manusia.

Kedua, budaya instan lawan budaya kerja keras.

Budaya instan yang mengganggap bahwa bahagia, kekayaan, sukses, dan prestasi bisa diraih seperti membalik telapak tangan, juga harus dilawan dengan budaya yang memandang bahwa semua itu harus diraih dengan keringat dan air mata. Budaya-budaya yang menggampangkan penyelesaian persoalan dengan cara potong kompas dalam kehidupan sehari-hari mesti dilawan dengan cara-cara yang lebih beradab. Prestasi yang diraih dengan kerja keras harus diberi penghargaan secara layak dan harus diciptakan mekanisme penilaian untuk orang-orang yang meraih prestasi dengan kerja keras. Kita harus menanamkan pendidikan budaya yang memberi pengertian kepada anak-anak agar korupsi, perilaku tidak jujur, komersialisasi jabatan, sampai jual beli gelar aspal, plagiat, atau mencontek adalah contoh budaya instan yang tidak layak diberi tempat dalam masyarakat. Karena kita hanya menghargai orang yang bekerja keras.

Ketiga, budaya kulit lawan budaya isi.

Budaya kulit atau tampilan luar dalam kehidupan memang penting. Untuk menjaga citra diri atau image seseorang, banyak cara yang bisa ditempuh. Ada orang yang memamerkan kekayaan, ada yang menunjukkan kepintaran, ada juga yang unjuk kekuatan dan kekuasaan. Show kemewahan sudah menjadi bagian dari gaya hidup kaum aristokrat sejak dulu. Sekarang banyak orang kaya baru (OKB) yang tidak malu-malu menunjukkan dirinya kaya dan saleh. Untuk itu, orang menggunakan simbol-simbol kesuksesan dan kesalehan dengan berbagai cara. Persoalan muncul kalau orang biasa memakai topeng kulit seperti itu. Pasalnya iklan dan sinetron tak hentinya mengajarkan bahwa budaya kulit lebih hebat dari budaya isi.

Kita ingin menanamkan kepada anak-anak sejak dini bahwa budaya isi, substansi jauh lebih penting dari budaya kulit. Bukan kita iri atau cemburu dengan orang sukses dan kaya. Bukan! Kita ingin agar kekayaan dan kesuksesan mereka lebih bermakna bagi kehidupan banyak orang. Kita merindukan kesejahteraan yang lebih merata. Kita ingin mengetuk kesadaran orang yang gandrung budaya kulit agar mulai menyelami budaya isi, untuk menyelami hakikat kehidupan itu sendiri.

Keempat, budaya penampilan lawan budaya hidup sederhana.

Budaya penampilan, asal kelihatan keren, kece, dan hebat, juga menjadi bagian dari kehidupan kita. Tak banyak orang sekarang yang mau dan berani tampil lebih sederhana dari penghasilannya. Bahkan tak jarang orang sudah menghabiskan penghasilannya sebelum penghasilan itu menjadi haknya. Kita menyebut budaya kredit dan budaya utang kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup kita bahkan sudah menjadi darah daging dan daya hidup pemerintah kita (ingat utang luar negeri!).

Kita akan sulit atau mungkin terasing di tengah-tengah tetangga, keluarga atau kolega kalau kita berpenampilan sederhana. Kebersahajaan --sebagai pilihan sikap dan gaya hidup alternatif-- menjadi barang langka atau bahkan semacam kemewahan tak terjangkau di tengah hutan lebat gemerlap gaya hidup. Di kantor, pakaian Anda yang dinilai tidak modis dan stylist akan dikomentari, "Masak dari dulu hanya pakai yang itu-itu." Kamu tidak akan kelihatan sukses dan membanggakan keluarga kalau kamu tidak mengenderai kendaraan terkini. Kamu akan lebih keren kalau kamu memakai HP keluaran mutakhir, model anu dengan penampilan gress. Ongkos penampilanmu akan terus menyedot sakumu.

Setiap hari anak-anak kita dikhotbahi oleh pesan-pesan iklan dan sinetron padat gaya hidup agar mereka memuja budaya penampilan. Di masa depan kita ingin agar anak-anak kita menjadi lebih sederhana dari kita, sekalipun kita tetap berusaha agar mereka jauh lebih sukses dan bahagia dari kita.

Kelima, budaya boros lawan budaya hemat.

Budaya kulit atau budaya penampilan jelas telah menjadikan budaya boros begitu telanjang di pelupuk mata. Kita jarang berpikir jangan-jangan perilaku dan gaya hidup serbaboros sudah mendarah daging dalam kehidupan kita. Cobalah simak di kantor, di jalan, atau di rumah kita. Bagaimana kita menggunakan listrik, air, atau pulsa telefon (khususnya HP). Kalau dulu orang tua memberi anak uang bisa ditabung atau dibelikan emas. Sekarang begitu banyak orang tua yang menganggarkan uang pulsa bulanan buat si buah hatinya. Di zaman teknologi komunikasi serbacanggih, budaya ngerumpi dan omongan remeh-temeh bisa menghamburkan uang ratusan ribu bahkan jutaan perbulan.

Mulai sekarang kita harus menanamkan kesadaran di kalangan anak muda bahwa budaya hemat adalah bagian dari perilaku hidup sehat dan beradab yang harus dikembangkan. Kepada generasi muda, misalnya, perlu kita sebarkan ungkapan, "Save water and electricity!" atau "Hemat air dan listrik demi generasi mendatang!". Bila perlu harus kita pasang di pintu-pintu rumah kita. Kita harus berpikir bahwa masih banyak orang yang belum memperoleh penerangan yang layak dan air bersih yang wajar sebagaimana yang kita nikmati. Masih banyak bencana kekeringan dan kelaparan yang menyebabkan nestapa kemanusiaan. Kita ingin budaya hidup hemat menjadi pesan kemanusiaan yang bermakna bagi generasi mendatang. Seruan lirih Mahatma Gandhi terdengar pas, "Earth provides enough for everyone's need, but not for everyman's greed."

Keenam, budaya apati lawan budaya empati.

Dengan kesadaran demikian pula kita ingin membuat sikap masa bodoh atau apati yang membuat kita menutup mata terhadap persoalan di sekitar kita segera diganti oleh tumbuhnya generasi yang berkesadaran empatik. Budaya empatik menumbuhkan kepedulian dan kesadaran untuk mendengar terhadap keluhan orang lain atau penderitaan sesama. Generasi empatik adalah generasi yang bisa hidup dalam semangat untuk memberi kepada yang tidak mampu dan menyuarakan persoalan publik serta membebaskan yang tertindas. Kita ingin menumbuhkan budaya empati justru di tengah-tengah sikap masa bodoh atau ketidakpedulian yang sering mewarnai budaya kita sehari-hari.

Ketujuh, budaya konsumtif lawan budaya produktif.

Budaya yang hanya bisa memakai, menghabiskan waktu dan uang yang tak bermanfaat, harus dilawan dengan budaya yang lebih memberikan hal-hal yang bermanfaat dalam kehidupan. Kalau sekarang kita hanya menjadi masyarakat pemakai (pemakai barang produk luar negeri, konsumen pemikiran, dan gaya hidup asing), di masa depan konstruksi budaya yang paling berat dan krusial adalah bagaimana membuat bangsa ini menjadi bangsa yang menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan dan kemanusiaan. Tantangan pendidikan kita adalah bagaimana menjadikan generasi konsumtif berubah menjadi generasi produktif. Generasi yang tidak hanya menjadi pengguna atau konsumen, tapi menjadi produsen bagi bangsanya bahkan bagi luar negeri. Ini tidak boleh tidak memerlukan semacam revolusi kesadaran yang menuntut pendidikan sumber daya manusia yang sistematis dan terprogram.

Kedelapan, budaya bersih lawan budaya sampah.

Sampah akan menjadi persoalan urban yang pelik kalau kita tidak mencari solusi yang lebih terpadu dalam pembangunan dan penataan kota di masa depan. Kita sekarang hidup dalam "masyarakat serba membuang"; beli, pakai sekali, setelah itu buang. Untuk itu kita harus menanamkan budaya bersih sejak dini dalam lingkungan keluarga, tetangga, masyarakat luas, terutama di pasar dan pertokoan, perkantoran, terminal, stasiun, pelabuhan dan lapangan terbang, jalan-jalan dan fasilitas umum harus memperhatikan masalah penanganan sampah secara serius. Budaya membuang sampah sembarangan harus mendapatkan ganjaran yang keras kalau perlu jerat hukum. Dan, kebiasaan membuang sampah pada tempat yang disediakan secara khusus sudah harus ditanamkan sejak dini hingga di masa kanak-kanak, di ruang keluarga Indonesia. Ingatlah sampah akan menjadi ancaman serius karena bukankah setiap orang menghasilkan sampah?

Kesembilan, budaya antre lawan budaya terabas.

Kebiasaan antre juga harus dikampanyekan dan dimasyarakatkan di tempat-tempat milik publik. Kita harus menjadi bangsa yang beradab, jangan asal terabas. Budaya terabas menyebabkan munculnya korupsi dan membuat kita tidak sabaran di jalan. Budaya antre menghargai keteraturan yang tidak dipaksakan, tapi tumbuh dari kesadaran penghargaan terhadap orang lain. Kita hanya mendahulukan orang tua, orang sakit, atau orang hamil. Kita harus mempraktikkan kepada anak-anak sejak dini tentang pentingnya budaya antre dalam masyarakat sibuk seperti sekarang ini.

Kesepuluh, budaya kompetisi lawan budaya kerja sama.

Kita perlu berkompetisi, asal kompetisi itu sehat dan fair, karena kita ingin yang terbaiklah yang muncul sebagai pemimpin atau pemenang. Kita harus menanamkan budaya menerima kekalahan secara fair dan menghargai prestasi orang lain agar kehidupan berjalan sehat. Ini baik dalam pendidikan, juga dalam demokrasi. Kalau kita sulit membangun budaya kompetisi, kita harus mulai berpikir bagaimana membangun budaya kerja sama. Kita sudah lama larut dalam klik-klik kepentingan picik golongan, bahkan kita sudah jauh masuk dalam keretakan kehidupan kebangsaan, dan melemahnya kohesivitas sosial. Kita ingin budaya kerja sama hidup kembali di kalangan anak-anak muda dan generasi yang akan datang. Bukankah persoalan kemanusiaan dan kebangsaan yang pelik hanya bisa dipecahkan bersama. Kita hanya bisa menghilangkan sikap individualis, egoistik, dan merasa benar sendiri, bila kita terbiasa bekerja sama, karena kita akan semakin rendah hati menerima berbagai kemungkinan dari orang lain yang berbeda dari kita.

Akhirnya, kita harus membuat skenario budaya ini agar bisa berjalan dari hal-hal kecil kehidupan kita sehari-hari. Kita ingin generasi di masa datang berubah wajah dari generasi yang serba dipolitisasi dan dikomersialkan menjadi generasi yang lebih beradab, civilized generation. Karena itu kita harus merancang desain budaya dan kesadaran masyarakat kita dari politicized and commercialized society menjadi civilized society. Saya yakin kalau kita mulai menjalankan salah satu saja dari "10 Sikap dan Kesadaran Budaya Positif" tersebut, kita mulai ikut meretas jalan untuk membangun masyarakat lebih beradab. Jalan memang masih panjang dan berliku. Tapi, bukankah seperti senandung dari lirik lagu Lionel Richie, "We can save the world if we try...."***

Penulis, Konsultan komunikasi dan peneliti media serta kebudayaan pop.

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/1205/17/khazanah/lainnya01.htm


Budaya Pendidikan

1 komentar

Artikel:
Inilah Budaya Pendidikan kita


Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama (Penulis): A Hamam Rosidi
E-mail (Penulis): el_rasyidi@yahoo.com
Saya Mahasiswa di Malang
Judul: Inilah budaya pendidikan kita
Topik: OPTIONAL
Tanggal: 24 Mei 2007

Inilah Budaya Pendidikan kita

Oleh : A. Hamam Rosidi*

Sungguh ketika telinga kita mendengar kata-kata ujian nasional, maka yang pertama kali muncul di benak kita adalah les privat, menyiasati rumus-rumus yang panjang, try out, menyontek, mencuri dan menggondol soal Unas, bocoran soal Unas, polisi, lulus-tidak lulus dan kisruh.

Semua yang tersebut diatas adalah gambaran-gambaran pendidikan kita. Gambaran-ganbaran out put generasi bangsa kita, bangsa Indonesia. Dikuatkan lagi dengan beberapa kericuhan yang terjadi pada waktu pra Unas maupun pada hari pelaksanaan Unas tingkat SMU tahun 2007 ini. Diantaranya, pencurian soal Unas oleh Kasek beserta rekan-rekannya, yang kesemuanya dari SMK PGRI 4 Ngawi (Surya, 21/4). Insiden tersebut semakin memperkeruh citra pendidikan kita. Bagaimana tidak, guru dan Kepala Sekolah yang seharusnya menjadi teladan dan panutan siswa, merencanakan dan melakukan pencurian soal Unas secara bersama-sama yang dimaksudkan untuk mengentaskan ketidaklulusan siswa.dan mengangkat nama baik sekolahnya tanpa dibarengi dengan esensi yang baik.

Pada kasus yang lain, pengroyokan oleh para siswa SMA 2 pasca Unas pada pengawasnya Sri Handayani dari SMA 1 Tanggul Jember (Jawa pos, 19/4). Kejadian ini dilatar belakangi oleh ketatnya penjagaan Unas oleh pengawas. Keketatan ekstra dalam pengawasan Unas ini memunculkan kekesalan siswa yang membuat mereka mengamuk dan memecahi kaca.

Sebenarnya yang dilakukan oleh Sri Handayani salah satu pengawas, sangat baik. Karena ia menjalankan tugas sesuai prosedur termasuk cara pembagian soal, absensi peserta Unas dan pengawasan yang sportif. Akan tetapi, dibalik kedisiplinan itu tidak dilandasi dengan jiwa yang ikhlas, melainkan karena persaingan ketat antara SMA 1 dan SMA 2 Tanggul sehingga guru SMA 1 mengawasi SMA 2 dengan berlebihan (Surya, 20/4). Bukan dari nurani seorang guru yang mencerdaskan, tapi malah melemahkan. Dan mungkin masih banyak kericuhan-kericuhan yang belum tercover dalam media.

Lantas yang menjadi tanda tanya besar bagi kita adalah "Apa yang salah?" sehingga setiap pelaksanaan Unas selalu ada catatan hitam kecurangan dan kericuhan di dalamnya. Jika kita analisa setidak-tidaknya terdapat empat penyebab ketidakberesan dalam menyambut dan pelaksanaan serta pasca Unas ini yang kesemuanya bersumber dari budaya kita sendiri.

Pertama, kurangnya kita dalam menghargai sebuah proses. Dengan maraknya les privat menyebabkan para siswa lebih menanggungkan pelajarannya pada les tersebut. Sehingga mereka sering menyepelekan proses belajar di sekolah selama tiga tahun. Tak jarang juga para guru privat mengajarkan pada siswa penyiasata rumus-rumus yang panjang hingga menjadi pendek dan mudah tanpa mengajarkan alur rumus sebenarnya. Hal ini menjadikan siswa lebih senang mengerjakan sesuatu dengan instan tanpa berusaha dan berkerja keras yang berpengaruh pada masa dewasa kelak. Dan yang lebih parah lagi metode kebut Unas ini menjadikan ilmu yang ada pada siswa tidak akan bertahan lama, alias mudah lupa. Sedangkan bencana penuntut ilmu adalah lupa.

Kedua, kita lebih bangga dengan style dan gengsi daripada skill. Dengan adanya kasus-kasus pencurian dan pembocoran soal Unas yang dimaksudkan untuk meluluskan para peserta didik sehingga sekolah tersebut menjadi ternama dan terkenal dengan kualitasnya tanpa ada feedback yang bagus dalam esensinya, maka sekolah tersebut tak beda dengan tong kosong. Dengan kata lain, terjadai pembodohan pada siswa, wali murid, serta birokrasi sekolah oleh nama sekolah yang mencuat tinggi.

Ketiga, kita selalu tidak mau mengakui kelemahan dan kekurangan kita.Salah satu tujuan diadakannya ujian bagi para siswa adalah sebagai ukuran dari apa yang sudah dikuasai, dan apa yang belum dikuasai dari pelajaran yang mereka dapatkan. Akan tetapi, pada kenyataannya dalam ujian pasti ada kecurangan-kecurangan untuk memberi persepsi pada orang lain bahwa mereka pandai. Tidak mngakui kekurangan yang ada pada diri mereka sangat penting sekali untuk berinstropeksi diri, guna membangun masa depan cerah. Kelemahan-kelemahan kita saja tidak tahu dan tidak mau tahu, bagaimana kita akan melangkah kedepan yang penuh dengan halangan merintang?.

Keempat, masih lemahnya pendidikan kita. Meski standarisasi nilai ujian nasional masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan Negara-negara lain tapi masih saja ada kecurangan untuk mencapai standarisasi tersebut.

Keempat kebudayaan buruk kita diatas adalah sumber pemicu kerusuhan-kerusuhan yang terjadi dikalangan civitas akademik seluruh lembaga-lembaga pendidikan. Entah itu pada tingkat sekolah maupun universitas.Bahkan ujian dalam calon PNS juga tak kalah ricuhnya dengan ujian nasional pada sekolah-sekolah. Kita jadi teringat kasus pembunuhan adik kakak (junior-senior) dikampus IPDN jatinagor Sumedang beberapa minggu lalu. Bahwa sudah nyata bukti kekerasan hukum rimba dalam kampus tersebut, tapi tak satupun mahasiswa (praja) maupun pihak birokrat yang mengakuinya, melainkan selainkan seorang dosen Inu Kencana. Hal ini merupakan kemunafikan yang absurd dan yang lebih disayangkan lagi mereka adalah calon pemimpin kita.

Memerangi biang kerok kericuan Unas sama dengan memerangi budaya kita sendiri. Kebudayaan yang sudah mendarah daging ditubuh kita, memerlukan usaha yang keras dan waktu yang cukup lama untuk merubahnya. Tak semudah membalikkan telapak tangan.

Betapapun sulit merubah kebudayaan, tapi setidaknya kita bisa menekannya hingga seminimal mungkin, misalnya dengan undang-undang tertentu yang cukup memberatkan tapi lumayan menyembuhkan. Dengan sanksi-sanksi yang berat, contoh barang siapa yang berusaha merusak kerahasiaan soal unas maka ia dipenjara bukan hanya lima tahun tapi 10 tahun penjara. Begitu juga dengan siswa yang ketahuan mencontek meski satu nomer, maka ia dinyatakan tidak lulus unas. Bila perlu kita kerahkan pihak militer dengan ketegasan dengan ketegasan dan disiplin mereka dalam pelaksanaan Unas tanpa ikut campur pihak sekolah.

Meski agak ekstrim tapi ini demi generasi bangsa kita dan demi visi dan misi kita bersama. Yang pasti unas harus tetap berlanjut untuk menstandarisasikan kemampuan-kemampuan para calon pembawa bangsa kita.

*Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan
Administrasi Pendidikan 2006
Universitas Negeri Malang

Saya A Hamam Rosidi setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).


http://re-searchengines.com/hamamrosidi5-07.html

Pendidikan Musik ?? Pentingkah.............

1 komentar

PENDIDIKAN MUSIK!...PENTINGKAH?
Oleh Sandie Gunara

"Buat apa kamu belajar musik, sudah aja kamu belajar matematika atau fisika, biar kamu jadi anak pintar."

"ah, bu saya nyuruh anak saya les musik biar dia ada kesibukan aja, dari pada dia main gak karuan."

Pernahkah Anda mendengar kedua kalimat di atas atau bahkan Anda sendiri yang pernah mengalaminya? Kita mungkin menyadari bahwa memang pendidikan musik sampai saat ini masih menjadi sesuatu hal yang baru bagi kita yang hidup di Negri tercinta ini. Bagi sebagian masyarakat dan para pemangku kebijakan, musik bukan merupakan sesuatu hal yang penting, musik hanyalah sebagai hiburan, musik hanyalah pengisi waktu bagi anak-anak. Musik tidak akan memberikan kontribusi untuk kehidupan masa datang, musik tidak akan memberikan sesuatu profesi yang menjanjikan. Bahkan dilingkungan sekolah pun masih banyak yang menganggap bahwa musik bukan suatu mata pelajaran yang begitu penting, betulkah?

Banyak guru dan orang tua anak baik itu yang belajar disekolah formal ataupun informal yang memandang sebelah mata tentang pendidikan musik. Sehingga apabila anaknya memiliki kekurangan pada mata pelajaran tertentu, maka orang tua menganggap anaknya "kurang pandai", tetapi apabila anak memiliki nilai bagus pada mata pelajaran seni baik itu seni musik, seni rupa atau seni tari, orang tua menganggap hal tersebut bukan yang luar biasa, padahal anak tersebut mempunyai potensi dalam mata pelajaran tersebut yang bisa dikembangkan lebih lanjut. Nah, disinilah perlunya kesadaran guru dan orang tua untuk mengetahui potensi apa yang terdapat pada anak-anaknya.

Hal yang sama terjadi pada sekolah informal, misalnya kursus musik. Karena anggapan awalnya para orang tua mengkursuskan anaknya hanya untuk mengisi waktu luang saja, maka pengawasan dirumah pun tidak serius, misalnya mengatur jam latihan atau meminta dan mengawasi anaknya untuk berlatih. Kenapa harus orang tua? Karena waktu terbanyak adalah di rumah dalam hal ini orang tualah yang mempunyai waktu terbanyak untuk mengawasi anaknya, guru les hanya bertemu 40-60 menit saja dalam seminggu. Kerjasama orang tua dengan guru les sangat ditekankan dalam hal ini apabila ingin mencapai kesuksesan dalam pendidikan musik.

Berbicara mengenai mata pelajaran di sekolah, pada kurikulum 2007, terdapat sejumlah mata pelajaran yang salah satunya mata pelajaran Seni dan Budaya. Jika diamati uraian bahasannya, mata pelajaran Seni dan Budaya ini terdiri atas bahan ajaran pendidikan seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater.

Mata pelajaran ini disajikan mulai dari kelas 1 SD sampai dengan kelas III SMA, dengan alokasi waktu mungkin sekitar 2 jam pelajaran setiap minggu. Ya, hanya 2 jam saja pelajaran seni diberikan di sekolah. Dengan alokasi waktu yang disediakan dan bahan ajar yang beragam, pada umumnya para guru tidak dapat menyelenggarakan pembelajaran sebagaimana mestinya. Apalagi kalau di sekolah tersebut hanya terdapat guru seni musik saja, maka nyaris pelajaran seni yang lain akan ditinggalkan. Disamping itu, ada diantara mereka yang berpendapat bahwa pendidikan musik merupakan pelajaran yang tidak penting, sangat disayangkan dengan pendapat itu. Alasannya karena mata pelajaran pendidikan musik tidak di-UAN-kan.

Padahal apabila ditelaah lebih lanjut, menurut para ahli, pendidikan musik merupakan sarana yang paling efektif bagi pendidikan kreativitas. Pendidikan musik juga dapat menjadi sarana pendidikan afektif untuk menyalurkan emosi dan ekspresi anak. Selain itu, pendidikan musik dapat menjadi pendidikan keterampilan. Jadi secara konseptual, pendidikan musik sangat besar peranannya bagi proses perkembangan anak, terutama di Sekolah Dasar.

Sebagai materi pembelajaran, mata pelajaran Seni dan Budaya perlu di pahami guru, mau dibawa kemana anak didik kita sehingga tercapai arah yang tepat. Eisner (1972) dan Chapman (1978) mengatakan bahwa, arah atau pendekatan seni baik itu seni rupa, seni musik, seni tari ataupun seni teater, secara umum dapat dipilah menjadi dua pendekatan, yakni seni dalam pendidikan dan pendidikan melalui seni.

Pertama, seni dalam pendidikan. Secara hakiki materi seni penting diberikan kepada anak. Maksudnya adalah, keahlian melukis, menggambar, menyanyi, menari, memainkan musik dan keterampilan lainnya perlu ditanamkan kepada anak dalam rangka pengembangan kesenian dan pelestarian kesenian. Seni dalam pendidikan ini sejalan dengan konsep pendidikan yaitu sebagai proses pembudayaan yang dilakukan dengan upaya mewariskan atau menanamkan nilai-nilai dari generasi tua kepada generasi berikutnya (baca: guru kepada murid). Oleh sebab itu, seni dalam pendidikan merupakan upaya kita sebagai pendidik seni dan juga lembaga yang menaungi kita untuk mewariskan, melestarikan, dan mengembangkan berbagai jenis kesenian yang ada baik lokal maupun mancanegara.

Sangat beragam sekali kesenian yang berkembang di Indonesia ini. Dari mulai kesenian tradisional sampai pada kesenian modern, banyak terhampar di depan mata kita. Misalnya batik, ukiran, anyaman, lukisan, pupuh sunda, gamelan, kecapi, biola, piano, tari tayub dan tari bedaya, balet sampai pada berbagai jenis seni kontemporer. Dari kekayaan tersebut apabila tidak diwariskan kepada anak melalui jalur pendidikan maka kita akan menunggu saatnya kesenian tersebut akan dijauhi oleh anak kita.

Dari uraian di atas, maka seni dalam pendidikan merupakan sebuah program yang mengharapkan siswa pandai dalam bidang seni. Pandai menggambar, pintar menyanyi, terampil dalam menari, pandai memainkan alat musik dan sebagainya. Memang terasa sangat sulit sekali apabila diterapkan pada sekolah umum, karena harus mempertimbangkan kualifikasi guru terhadap bidang seni tertentu, waktu yang cukup, dan sarana- prasarana yang memadai. Tetapi bagi orang tua yang ingin anaknya terampil dalam bidang seni tertentu jangan khawatir, sudah banyak terhampar di depan mata kita sanggar-sanggar, kursus musik, kursus menggambar dan sebagainya, untuk kita pergunakan seoptimal mungkin bagi perkembangan anak kita.

Kedua, pendidikan melalui seni. Plato menyatakan bahwa seni seharusnya menjadi dasar pendidikan. Dari pendapat ini kita bisa beranggapan bahwa sesungguhnya seni atau pendidikan seni mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang pendidikan secara umum.

Konsep pendidikan melalui seni juga dikemukan oleh Dewey bahwa seni seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan bukannya untuk kepentingan seni itu sendiri. Maka melalui pendidikan melalui seni tercapai tujuan pendidikan yaitu keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis.

Merujuk pada konsep pendidikan melalui seni, maka pelaksanaannya lebih ditekankan pada proses pembelajaran dari pada produk. Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka sasaran belajar pendidikan seni tidak mengharapkan siswa pandai menyanyi, pandai memainkan alat musik, pandai menggambar dan terampil menari. Melainkan sebagai sarana ekspresi, imajinasi dan berkreativitas untuk menumbuhkan keseimbangan rasional dan emosional, intelektual dan kesadaran estetis. Kalau memang ternyata melalui pendidikan seni dapat menghasilkan seorang seniman maka itu merupakan dampak saja.

Dengan penekanan pada proses pembelajaran, maka guru pun dapat melaksanakannya. Kekurangan kemampuan guru dalam hal pendidikan seni dapat ditutup dengan penggunaan berbagai media pembelajaran yang memadai. Seperti yang telah dipaparkan di atas, pendidikan musik khususnya banyak sekali memberikan kontribusi bagi perkembangan dan keseimbangan rasional, emosional, intelektual dan kesadaran estetis. Banyak sekali hasil penelitian yang memberikan informasi kepada kita tentang pentingnya pendidikan seni khususnya musik bagi perkembangan anak, berikut beberapa hasil penelitian yang penulis rangkum dari Bulletin of the Council for Research in Music Education, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan musik/pendidikan seni, memudahkan perkembangan anak dalam bahasa dan kecepatan membaca.

  2. Aktivitas bermusik/berkesenian sangat bernilai bagi pengalaman anak dalam berekspresi dan lain-lain.

  3. Aktivitas bermusik/berkesenian membantu perkembangan sikap positif terhadap sekolah dan mengurangi tingkat ketidakhadiran siswa di sekolah.

  4. Keterlibatan dalam kegiatan bermusik/berkesenian secara langsung mempertinggi perkembangan kreativitas.

  5. Pendidikan musik/pendidikan seni memudahkan perkembangan sosial, penyesuian diri, dan perkembangan intelektual.

Dari penjelasan-penjelasan di atas, ternyata pendidikan musik sangat penting untuk perkembangan anak di masa depan. Pendidikan musik tidak lagi sebagai mata pelajaran tambahan yang sewaktu-waktu bisa saja dihilangkan atau hanya sekedar pengisi waktu luang bagi anak-anak yang kursus musik. Bukankah pendidikan itu merupakan sesuatu hal yang penting untuk menolong siswa dalam mengembangkan intelektual, emosional dan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka? Hal ini merupakan tugas para guru dan orang tua untuk mewujudkan hal tersebut. Maka pendidikan musik/pendidikan seni adalah bagian penting dan efektif untuk mewujudkan hal tersebut, walaupun sampai saat ini masih diragukan dan dikesampingkan.



http://re-searchengines.com/0907sandi.html



 
Copyright © pendidikan ia !!! | Theme by BloggerThemes & simplywp | Sponsored by BB Blogging