Kamis, 08 April 2010

Pendidikan Yang Demokratis

Contoh konkret:
1. Di SMP Kanisius Jl.Menteng Raya 24 Jakarta, salah satu kegiatan proses belajar mengajar adalah semacam 'forum terbuka' yang diasuh oleh kepala sekolah. Dalam kegiatan ini anak-anak (per kelas) selama kurang lebih satu jam pelajaran diminta menyampaikan keluh-kesah, suka-duka, harapan, tantangan dst.. selama belajar. Menarik kami beberapa reaksi dari anak-anak: 'Apakah kalau kami ramai di kelas hukumannya ulangan umum?', 'Terlambat masuk beberapa menit saja dihukum harus menyapu'Dst. Sang pengasuh pun menuntun anak-anak ini secara konkret, semacam refleksi bersama, melihat keuntungan dan kerugian berbagai tindakan atau perilaku yang menyimpang di sekolah. Salah satu buah kegiatan macam itu antara lain: seorang murid klas I diajar fisika oleh gurunya: guru mengatakan bahwa semua benda yang dipanasi akan memuai, tetapi ada anak yang bertanya 'lho telor itu dipanasi tidak memuai, tetapi malah menjadi padat, gimana itu'. Dengan rendah hati guru pun minta maaf belum dapat menjawab saat itu, dan akan dicarikan jawabannya kemudian.

2. Contoh di atas hemat kami merupakan salah satu perwujudan motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro -> 'ing madyo ambangun karso' (=pemberdayaan). Hemat kami 'pemberdayaan' ini lemah sekali di dalam proses pendidikan atau pembelajaran kita saat ini yang sangat didominasi oleh sistem indoktrinasi. Dampaknya adalah manusia-manusia robot, kurang kreatif, pasif dst... Maka kami mengajak segenap pecinta, pengamat, pelaksana proses pembelajaran/pendidikan di tingkat apapun marilah kita wujudkan motto bapak pendidikan kita di atas, di mana kehadiran setiap pendidik/pembina akan menggairahkan atau memberdayakan para murid/peserta didik, sehingga mereka bermental eksploratif, bukan konsumptif dan pasif.

3. Untuk mendukung pelaksanaan sistem tersebut di atas perlu dihayati bahwa pendidikan adalah 'proses'. Proses berarti mulai dari sesuatu apa adanya dan sedikit-demi sedikit ditumbuh-kembangkan bersama-sama. Disini pendidik dan peserta didik sama-sama berdiri sebagai subyek/pribadi yang sama-sama masih butuh tumbuh dan berkembang. Dari pihak pendidik memang dituntut sikap terbuka, rendah hati, sabar, mendengarkan dst... Ingat berproses bukan ingin cepat-cepat jadi/instant. Berpartisipasi dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dapat belajar dari 'ibu yang sedang mengandung anaknya' atau 'petani yang merawat tanamannya'. Keutamaan-keutamaan macam apa yang dibutuhkan oleh ibu atau petani tersebut juga dibutuhkan oleh seorang guru atau pendidik.
ign, sumarya sj





http://re-searchengines.com/art05-74.html

1 komentar:

Aniek Shie Shuity d' Archie mengatakan...

ea ea memang pendidikan jga hrs demokratis!

Posting Komentar

 
Copyright © pendidikan ia !!! | Theme by BloggerThemes & simplywp | Sponsored by BB Blogging