Kamis, 08 April 2010

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Jakarta, Senin (21 April 2008) -- Pendidikan sangat dinamis dan telah mengalami revolusi di dalam konsep dan ideologinya. Hal ini disebabkan oleh perkembangan kehidupan yang juga mengalami perubahan yang mendasar. Untuk mengakomodir kebutuhan tersebut harus dilakukan penyetelan ulang terhadap konsep pendidikan.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo mengemukakan, pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan atau education for sustainable development (ESD) merupakan sebuah konsep pendidikan yang tidak hanya bervisi kepada pendidikan murni, tetapi sekaligus menggabungkan konsep pembangunan dari perspektif ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. "Jadi ini (ESD) adalah sebuah konsep multidisiplin. Pendidikan akhir-akhir ini telah mengalami perluasan konsep yang luar biasa," katanya usai membuka pertemuan Forum Kebijakan Selatan-Selatan, di Hotel Atlet Century Park, Jakarta, Senin (21/04/2008) .

Hadir dalam acara Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PNFI) Depdiknas Ace Suryadi, Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Baedhowi, Direktur UNESCO Kantor Jakarta Hubert Gijzen, dan perwakilan UNESCO Institute for Lifelong Learning, Hamburg, Jerman, Ms. Madhu Singh.

Bambang mengatakan, pendidikan untuk semua (education for all), pembelajaran sepanjang hayat (life long learning), dan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan (education for sustainable development) harus terintegrasi dalam sebuah sistem. "Sistem kita harus mampu mengkoordinir. Sistem pendidikan nasional kita yang diatur dalam Undang-Undang Sisdiknas sudah mengakomodasi itu semua," ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, konsep education for all merupakan bagian dari Millenium Development Goals (MDG's), sedangkan konsep life long learning sudah ada dalam UU Sisdiknas. Sementara, konsep education for suistanable development sudah tergambar atau tersirat secara jelas di dalam UU Sisdiknas, maupun di dalam Pembukaan UUD 1945.

Oleh karena itu, kata Mendiknas, Indonesia tidak mengalami kesulitan untuk melakukan berbagai macam penyesuian ataupun reformasi pemikiran. Demikian juga halnya untuk mengembangkan sistem maupun program yang harus digelindingkan untuk membuat pendidikan tetap up to date sesuai dengan pemikiran yang mainstream di dunia ini.

Sebelumnya, Ace menyampaikan, tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mereview konsep pembelajaran sepanjang hayat pada pendidikan formal, nonformal, dan informal. Selain itu, akan mendiskusikan kebijakan pembelajaran sepanjang hayat, serta kontribusinya pada pembangunan berkelanjutan. Sesama peserta forum juga akan berbagi pengalaman, capaian, tantangan, dan kerjasama antar negara di wilayah Asia dan Sub-sahara Afrika pada tataran kebijakan dan aksi ke depan.

Ace melaporkan, pertemuan dihadiri sebanyak 65 peserta dari 18 negara terdiri atas para pembuat kebijakan bidang pendidikan, pakar dari lembaga pemerintahan, universitas, lembaga swadaya masyarakat (LSM). Negara yang berpartisipasi diantaranya adalah Boswana, Brunei Darussalam, Kanada, Cina, India, Kenya, Namibia, Nigeria, Pakistan, Afrika Selatan, Tanzania, Timor Leseta, Uni Emirat Arab, Inggris, Zimbabwe, dan Indonesia sebagai tuan rumah.***




http://www.depdiknas.go.id/content.php?content=file_detailberita&KD=278

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © pendidikan ia !!! | Theme by BloggerThemes & simplywp | Sponsored by BB Blogging