E-Learning Dapat Membunuh Kreativitas!
Beberapa hari yang lalu ada beberapa dosen lagi membahas isu-isu Teaching Theory/Philosophy di Facebook. Saya sendiri tidak suka membahas Teaching Theories, saya anggap semua teori dapat digunakan dan sangat tergantung tujuan kita. Tujuan dosen-dosen kami di Australia adalah memperkenalkan kami dengan segala macam teori, "bukan untuk membentuk pikiran atau sikap kami", jadi mereka tidak pernah menyampaikan perasaan mereka sendiri terhadap teori-teori tertentu supaya kami dapat menilaikan dan membentuk perspektif masing-masing. Untuk mendalami pengertian kami, grup kuliah kami di bagi-bagi ke grup-sub lagi sesuai dengan beberapa macam filosofi (filsofat). Saya sendiri ikut grup "Humanists" (yang pada waktu itu saya paling suka) dan grup kami, seperti grup lain membuat les yang dapat exemplify proses pembelajaran teori masing-masing. Dari kegiatan ini kami dapat melihat bahwa semua teori mempunyai peran di dalam menyampaikan pembelajaran yang baik dan bermutu.
Tetapi kebanyakan calon guru jelas tidak setuju dengan "Behaviourism" sebagai filosophi dan kelihatannya merasa bahwa teorinya sangat bagus untuk mendidik tikus-tikus, tetapi tidak cocok untuk manusia karena tidak manusiawi dan tujuannya bukan untuk "mengembangkan orang", tetapi membentuk perilakunya. Saya kadang-kadang menggunakan aspek-aspek metodologi Behaviourism di dalam kelas, misalanya dalam mainan (game) diberikan permen, tetapi hanya untuk variasi (misalnya memberi reward/inducement - "but never punishment"), maupun tidak sebut bahwa jawaban pelajar adalah salah, hanya terus mencari tambahan informasi dari pelajar lain sampai kita ketemu jawaban yang benar, supaya suasana di kelas tetap nyaman. Saya tidak pernah membuat les yang berbasis-Behaviourism.
Mengapa? Karena Behaviourism adalah berbasis-respons-jawaban-perilaku-tertentu - yang gurunya memutuskan adalah benar, jelas tidak mengajak atau mendukung proses kreativitas atau inovasi. Tujuannya adalah membentuk behaviour (perilaku) orang (seperti robot). Di dalam kelas yang di laksanakan oleh guru, guru sendiri masih memberi kesempatan untuk menerima jawaban yang di luar ekspektasi guru (dan mungkin belajar sesuatu sendiri) dan membahas lanjut supaya mendalami pengertian. Harapan saya adalah pelajar-pelajar saya akan lebih kreatif dan inovatif daripada saya sendiri. Jadi Behaviourism tidak cocok.
Tetapi kalau Behaviourism dilaksanakan oleh teknologi, hanya jawaban tertentu dapat diterima, jadi pasti membunuh kesempatan untuk Kreativitas dan Inovasi. "Teaching Machine" (Teknologi Pembelajaran) yang pertama dibuat oleh Sydney L. Pressey pada tahun 1920an - bukan sesuatu baru, dan jangan salah, e-Learning sampai sekarang masih berbasis-Behaviourism (Programmed Learning).
Re (di paling bawah): "Internet and various learning platforms like learning management systems, one could implement Skinner’s theories and projects more economically"
Dari pengalaman di negara maju kita dapat melihat bahwa sistem E-Learning dan Pemiliharaannya adalah sangat mahal dan tidak terjangkau di kebanyakan sekolah di negara maju (bagaimana di Indonesia?), maupun dinilai kurang efektif di tingkat sekolah. Mengapa? Apakah Karena "Skinner’s theories" (Behaviourism) tidak mengajak pelajar kreatif dan inovatif, dan tidak dapat menilaikan isu-isu yang sangat penting seperti kreativitas dan Inovasi? - Pembelajaran Berbasis-Asal-Hafal-Saja!
(Mungkin "Skinner’s theories" adalah lebih cocok dengan zaman "Asal-Hafal-Saja")
P.S. Saya setuju dengan dosen-dosen kemarin yang jelas tidak suka behaviourism juga, dan saya bingung - mengapa lebih banyak pendidik di negara kita tidak protes mengenai konsep e-learning sebagai solusi pendidikan bangsa?
Bahasa Inggris adalah kunci utama ke pintu globalisasi, bukan teknologi!

3 komentar:
WOW !!!!!!
aQ binund bgt ni Ind.....
hmmmmmm..... T.T
merpati : klu bnund ia udh..
Posting Komentar